Munculnya gerombolan misterius Slipi setelah aksi di kawasan DPR pada 27 Agustus memicu pertanyaan besar di ruang publik, termasuk di kalangan pembaca di Medan yang mengikuti isu keamanan nasional. Kelompok yang turun dari sejumlah truk dengan bambu, balok, dan ikat kepala putih sempat memukul serta mengejar orang secara acak di sekitar flyover Slipi menuju Petamburan. Insiden itu beriringan dengan kematian seorang warga dan sorotan terhadap kehadiran Ketua DPP GRIB Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, di lapangan.
Demonstrasi yang digelar Aliansi Masyarakat Pati Bersatu semula berpusat di Gerbang DPR. Setelah sebagian massa pulang, sisa massa bertahan dengan orasi hingga sore menuju malam. Situasi memanas: api menyala di depan gerbang, material berhamburan, dan gerbang besi nyaris bobol sebelum aparat menyemprotkan meriam air. Massa kemudian tercerai ke arah Slipi, Pejompongan, dan Jalan Tentara Pelajar.
Apa yang terekam di kawasan Slipi dan Pejompongan
Ketika area depan gerbang DPR kembali dikuasai aparat, suasana sempat lengang. Orang-orang membentuk kelompok kecil di pinggir jalan. Laporan kepolisian kemudian menyebut adanya pengrusakan CCTV dan pos polisi di bawah flyover Slipi. Perhatian publik beralih pada sekitar tujuh truk yang menurunkan massa bersenjata kayu di kawasan itu.
Rekaman yang beredar menunjukkan kelompok tersebut memukuli dan mengejar orang di sekitar pukul 22.30 WIB. Sebagian yang dikejar sempat melawan dengan melempar material di sekitar lokasi. Ada pula rekaman pria berpakaian hitam, bertopi, dan bermasker yang diduga melepaskan tembakan ke arah orang yang berlarian; verifikasi independen atas cuplikan itu masih terbatas di ruang pemberitaan.
Kehadiran Hercules dan penjelasan GRIB Jaya
Dalam video lain, sekitar lima mobil pribadi yang diiringi sepeda motor menepi di ruas tol kawasan Slipi. Penumpang turun dan menyabetkan balok ke arah orang yang berkumpul sambil menyerukan pembubaran. Suara perekam dari atas jalan layang menyebut nama Hercules saat rombongan turun ke jalan.
Kuasa hukum GRIB Jaya, Wilson Colling, tidak membantah bahwa ketua umum mereka tampak dalam video yang beredar. Seruan “pulang” dimaknai pihaknya sebagai imbauan agar massa meninggalkan lokasi ketika situasi tidak kondusif. Sebelumnya Wilson menegaskan tidak ada instruksi keanggotaan untuk ikut demonstrasi; justru diminta menjaga ketertiban dengan tidak turun ke aksi sebagai bentuk dukungan kepada aparat.
GRIB Jaya sempat dikaitkan dengan truk yang dirusak massa karena diduga mengangkut anggota ormas. Namun bukti publik yang tersedia belum memadai untuk membuktikan komando, koordinasi, atau keterlibatan kelembagaan secara resmi dalam kericuhan maupun pengeroyokan.
Kematian Bambang Setiyawan dan langkah penyidikan
Polisi mengonfirmasi meninggalnya Bambang Setiyawan (59), pedagang cermin dari Bendungan Hilir, Tanah Abang. Keluarga menduga ia dipukuli dan diseret di kawasan Pejompongan oleh gerombolan yang muncul setelah demo mereda. Bidang Kedokteran dan Kesehatan Polda Metro Jaya mengevakuasi seorang laki-laki dalam kondisi pingsan setelah lokasi diamankan.
Bambang meninggal dalam penanganan di RS Mintoharjo, lalu jenazah dipindahkan ke RS Polri Kramat Jati sekitar pukul 23.00 WIB. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto menyatakan penyelidikan dibuka dan fakta dikumpulkan. Soal dugaan keterlibatan ormas, polisi memilih sikap hati-hati karena banyak narasi, hoaks, dan provokasi beredar di media sosial bersamaan dengan aksi.
- Penyelidikan kematian warga Pejompongan dilanjutkan dengan pengumpulan barang bukti dan keterangan.
- Dugaan keterlibatan kelompok informal dan ormas didalami tanpa terburu menyimpulkan dari isu viral.
- Pengrusakan fasilitas di bawah flyover Slipi masuk dalam rangkaian peristiwa yang diusut.
Pertaruhan kredibilitas aparat di mata publik
Peneliti demokrasi menilai kehadiran “kelompok informal” di ruang pascademonstrasi berisiko mengaburkan batas kewenangan pengamanan yang seharusnya menjadi domain negara. Desakan agar kepolisian menyelidiki secara profesional dan menyeluruh—termasuk kehadiran Hercules di lapangan—menjadi ujian integritas institusi.
Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, pola kemunculan massa bersenjata nonaparat usai aksi damai sering dibaca sebagai sinyal soal standar penegakan hukum yang harus sama di pusat maupun daerah. Transparansi hasil penyidikan, kejelasan status para pelaku kekerasan, serta komunikasi fakta yang valid dinilai lebih penting daripada klarifikasi parsial di tengah isu yang tumpang tindih.
Pengungkapan siapa yang mengorganisasi gerombolan, apakah ada keterkaitan komando, dan bagaimana rangkaian kekerasan hingga korban jiwa dibuktikan di meja penyidikan akan menentukan apakah kepercayaan publik pulih atau justru terkikis. Polisi telah menyatakan akan mendalami; publik kini menunggu data dan proses yang dapat diuji, bukan sekadar bantahan normatif.
Sumber: BBC Indonesia.
