Data terbaru Badan Pusat Statistik menempatkan inflasi Agustus 2026 Indonesia di angka 3,19 persen secara year on year. Kenaikan ini lebih tinggi dibanding capaian Juli yang berada di 2,88 persen, sehingga perlu dicermati rumah tangga di Medan dan Sumatera Utara yang belanja pangan serta transportasi menjadi pos rutin.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan rincian tersebut dalam konferensi pers Berita Resmi Statistik di Jakarta, Selasa (1/9/2026). Indeks harga konsumen bergerak dari 111,73 pada Juli menjadi 111,97 pada Agustus, setara inflasi bulanan 0,21 persen. Secara year to date, akumulasi inflasi tercatat 1,86 persen, sementara pembanding tahunan memakai IHK 108,51 pada Agustus tahun sebelumnya.
Tiga kelompok pengeluaran yang paling menekan IHK
Secara tahunan, tekanan terbesar datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan inflasi 3,86 persen dan andil 1,13 persen. Komoditas yang menyumbang andil tinggi antara lain daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, cabai rawit, daging sapi, sigaret kretek tangan, sigaret putih mesin, serta cabai merah.
Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya membukukan inflasi 9,25 persen berkat andil 0,63 persen, terutama dari emas perhiasan. Kelompok transportasi menyusul dengan inflasi 4,79 persen dan andil 0,58 persen; bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, dan mobil menjadi penopang utama kenaikan.
Uraian komponen inti, diatur pemerintah, dan bergejolak
Seluruh komponen harga mengalami inflasi secara tahunan. Komponen inti naik 2,92 persen dengan andil terbesar 1,87 persen. Di dalamnya, emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, oli mesin, serta laptop atau notebook mendominasi sumbangan inflasi.
Komponen harga yang diatur pemerintah menguat 3,32 persen (andil 0,65 persen), ditopang bensin, tarif angkutan udara, rokok kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga. Komponen harga bergejolak tercatat 4,06 persen dengan andil 0,67 persen; daging ayam ras, beras, cabai rawit, daging sapi, dan cabai merah menjadi komoditas paling berpengaruh.
Apa artinya bagi konsumen di Medan dan Sumut
Meski rilis BPS bersifat nasional, pola komoditas di atas relevan bagi pasar tradisional dan ritel modern di Medan. Daging ayam, cabai, beras, serta minyak goreng sering menjadi penentu fluktuasi belanja harian keluarga. Kenaikan bensin dan biaya angkutan juga berpotensi memengaruhi ongkos distribusi barang dari pelabuhan dan terminal menuju pasar lokal.
Warga yang berpenghasilan tetap disarankan memantau pos belanja protein hewani dan bumbu dapur, sekaligus membandingkan harga antar pasar agar tidak terpaku pada satu lokasi. Pelaku usaha kecil yang bergantung pada bahan baku tersebut perlu menyesuaikan stok dan margin tanpa menaikkan harga secara mendadak yang justru melemahkan daya beli pelanggan.
Ringkasan angka resmi yang perlu diingat
- Inflasi bulanan (mtm) Agustus 2026: 0,21 persen
- Inflasi tahunan (yoy): 3,19 persen
- Inflasi year to date: 1,86 persen
- IHK Agustus 2026: 111,97
Dengan andil pangan, emas, dan transportasi yang menonjol, arah harga ke depan masih bergantung pada pasokan dalam negeri, kebijakan energi, serta stabilitas distribusi. Publik di Sumatera Utara dapat menjadikan rilis ini sebagai acuan membaca tekanan harga, sambil menunggu pembaruan data BPS pada bulan berikutnya.
Secara keseluruhan, kenaikan dari 2,88 persen pada Juli ke 3,19 persen pada Agustus menegaskan bahwa tekanan harga belum mereda sepenuhnya, meskipun laju bulanan relatif moderat. Pemantauan komoditas bergejolak tetap krusial bagi perencanaan anggaran rumah tangga maupun usaha mikro di kawasan Medan raya.
Sumber: Republika.
