Isu pemenuhan hak anak yatim kembali menjadi sorotan ketika sejumlah pengelola program sosial menekankan bahwa bantuan uang atau paket sembako saja belum memadai. Pembentukan karakter, akses pendidikan, dan pendampingan rutin dinilai sama pentingnya agar anak mampu menghadapi tantangan masa depan dengan mental yang tangguh. Pembaca di Medan dan Sumatera Utara pun kerap menyaksikan pola serupa di komunitas lokal: kepedulian material perlu dibarengi investasi jangka panjang pada kualitas diri anak.
Pesan itu disampaikan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang dipadukan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan digelar di Sekretariat Pusat Erlazet Charity pada Ahad, 30 Agustus 2026, dan diikuti 50 anak yatim binaan. Agenda mencakup edukasi karakter, penguatan nilai keagamaan, serta penyaluran santunan sebagai bentuk dukungan sosial.
Pendampingan melampaui bantuan material
Ketua pelaksana kegiatan sekaligus Manager Pendidikan Erlazet Charity, Shofina Fauzani, menegaskan bahwa pendampingan anak binaan harus mencakup ranah belajar dan pembentukan sikap, bukan hanya kebutuhan sehari-hari. Ia berharap anak-anak tidak sekadar merasakan kemeriahan hari kemerdekaan dan suasana Maulid, tetapi juga merasa dicintai, didampingi, serta didukung dalam proses menuntut ilmu.
Menurut Shofina, pendidikan karakter yang ditanamkan berpijak pada akhlak mulia dan ketangguhan mental. Pendekatan itu digambarkan membantu anak membangun rasa percaya diri agar lebih siap menavigasi tekanan sosial maupun akademik di kemudian hari. Model gabungan unsur pendidikan, sosial, dan keagamaan menjadi kerangka kerja yang mereka terapkan.
Momentum kemerdekaan untuk siapkan generasi tangguh
Ketua 2 Erlazet Charity, Rafi Sina Almadani, menempatkan perhatian pada generasi muda sebagai wujud nyata mensyukuri usia kemerdekaan yang telah mencapai 81 tahun. Ia menekankan bahwa peringatan tersebut bukan hanya mengenang perjuangan masa lalu, melainkan komitmen menyiapkan generasi yang cerdas dan tangguh.
Rafi menambahkan bahwa keteladanan Rasulullah SAW dapat menjadi landasan moral bagi anak dalam bersikap. Perpaduan semangat kemerdekaan dan nilai kenabian diharapkan menumbuhkan anak binaan yang berakhlakul karimah, percaya diri, serta siap menjadi tumpuan harapan bangsa di masa depan.
Rangkaian aktivitas edukatif dan keagamaan
Selama kegiatan, 50 anak yatim mengikuti sejumlah program yang dirancang ringan namun bermakna. Ada perlombaan bertema HUT RI yang mendorong kerja sama dan sportivitas, serta tausiah motivasi yang mengangkat nilai kejujuran, amanah, dan sikap pantang menyerah.
Penguatan keagamaan melalui ceramah singkat dilengkapi doa bersama di penutup acara. Paket santunan dibagikan kepada seluruh anak yang hadir sebagai bentuk dukungan sosial langsung. Penyelenggara menekankan bahwa santunan bersifat pelengkap, sementara pendidikan karakter dan pendampingan berkelanjutan menjadi poros utama agar dampaknya tidak berhenti di hari kegiatan.
- Pendidikan karakter berbasis akhlak dan ketangguhan mental
- Pendampingan belajar yang konsisten
- Penguatan nilai keagamaan dan keteladanan
- Dukungan sosial melalui santunan tanpa mengabaikan aspek nonmaterial
Relevansi bagi masyarakat luas termasuk Medan
Meskipun pusat kegiatan berada di Jakarta, pesan inti tentang membesarkan anak yatim lewat pendidikan dan karakter bersifat universal. Keluarga, relawan, dan lembaga sosial di Medan maupun daerah lain dapat mengambil pelajaran serupa: program yang hanya berorientasi pemberian barang cenderung berjangka pendek, sedangkan pendampingan rutin membentuk daya tahan psikologis dan capaian belajar.
Shofina dalam keterangan yang dirilis Selasa, 1 September 2026, kembali menggarisbawahi bahwa anak binaan perlu merasa didukung penuh dalam proses belajar. Pendekatan itu sejalan dengan kebutuhan banyak komunitas di Sumatera Utara yang mengelola panti atau program beasiswa informal, di mana konsistensi mentor sering menjadi penentu keberhasilan jangka panjang.
Pada akhirnya, peringatan HUT RI dan Maulid Nabi yang digelar Erlazet Charity menjadi pengingat bahwa memuliakan anak yatim berarti menyiapkan mereka menjadi individu mandiri. Santunan tetap penting sebagai jaring pengaman, namun fondasi yang lebih kokoh dibangun lewat pendidikan, akhlak, dan rasa percaya diri yang terus diasah. Masyarakat yang peduli dapat mulai dari langkah sederhana: konsisten mendampingi, bukan hanya memberi sekali jalan.
Sumber: Republika.
