Antrean panjang orangtua di depan bimbel Exist Gayam, Jalan Gayam, Kota Yogyakarta, menjadi sorotan setelah video suasana tersebut beredar luas. Mereka datang sejak dini hari demi nomor pendaftaran les untuk tahun ajaran berikutnya, bukan untuk sesi belajar yang segera dimulai. Fenomena ini menarik perhatian pembaca di berbagai kota, termasuk Medan, karena menggambarkan kompetisi pendidikan yang kian ketat sejak jenjang SMP.
Berdasarkan penelusuran yang dirangkum media nasional, momen antre terjadi di bimbingan belajar yang dikelola Yurin Gagarin, pensiunan guru SMP negeri di Yogyakarta. Ia telah puluhan tahun memberi les tambahan sebelum merintis dan mengembangkan Exist. Rekam jejak itu menjadi salah satu alasan orangtua rela menunggu dari pagi buta.
Nomor antre diganti jadi tiket pendaftaran tahun depan
Salah satu orangtua, Rahmawati, mengaku mengantre sejak subuh pada Senin, 31 Agustus 2026. Tujuannya mendapatkan nomor antrean yang kemudian ditukar menjadi nomor pendaftaran. Setelah itu masih ada tahap registrasi ulang sebelum status peserta dinyatakan resmi.
Anaknya kini duduk di kelas 8 atau kelas 2 SMP. Pendaftaran yang ia kejar justru untuk tahun depan, saat anak naik tingkat dan baru mulai mengikuti les. Pola serupa diungkapkan Kurnia, warga Banguntapan, Kabupaten Bantul, yang anaknya juga masih kelas 2 SMP dan baru akan les ketika kelas 3.
Kurnia mengatakan sudah memegang nomor pendaftaran dan tinggal menyelesaikan daftar ulang pada Sabtu berikutnya. Bagi banyak keluarga, langkah mendaftar jauh-jauh hari dianggap perlu agar tidak kehabisan kuota di tempat yang dinilai terbatas.
Testimoni nilai TKA dan jalur SMA favorit
Daya tarik utama bukan hanya antrean itu sendiri, melainkan cerita keberhasilan alumni. Rahmawati menuturkan ketertarikannya tumbuh dari testimoni bahwa murid yang les di Exist cenderung meraih nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) bagus dan berpeluang masuk sekolah favorit di Yogyakarta, seperti SMA 1 dan SMA 3.
Kurnia menyampaikan pertimbangan senada. Ia menilai capaian siswa di Exist Gayam memuaskan dan berharap les membantu anak menembus SMA yang diinginkan. Harapan itu disampaikan dengan optimisme: belajar maksimal, termasuk di bimbel, diharapkan membuat hasil TKA lebih kuat.
Bagi orangtua di luar Jawa, termasuk di Sumatera Utara, pola serupa sering muncul menjelang seleksi sekolah unggulan. Perbedaannya, di Yogyakarta antre fisik sejak subuh menjadi bukti nyata seberapa tinggi permintaan pada satu lembaga les tertentu.
Biaya Rp150 ribu per mapel jadi penentu
Selain reputasi akademik, faktor biaya disebut sangat memengaruhi keputusan. Kurnia menjelaskan orangtua cukup membayar sekitar Rp150 ribu untuk satu mata pelajaran. Dibandingkan banyak bimbel lain, tarif itu dinilai jauh lebih terjangkau.
Jadwal belajar disebut empat kali seminggu untuk satu pelajaran, sementara total biaya bergantung pada berapa mapel yang diambil. Kombinasi harga relatif rendah dan frekuensi pertemuan rutin membuat Exist Gayam ramai diburu, sekalipun prosesnya mengharuskan antre pagi-pagi.
- Lokasi: Bimbel Exist Gayam, Jalan Gayam, Kota Yogyakarta
- Pengelola: Yurin Gagarin, pensiunan guru SMP negeri
- Biaya acuan: sekitar Rp150.000 per mata pelajaran
- Frekuensi: empat pertemuan seminggu per mapel
- Sasaran orangtua: persiapan TKA dan SMA favorit
Minat tinggi dan pelajaran untuk kota lain
Kurnia menilai ramainya pendaftaran wajar karena banyak keluarga rela antre agar anak punya kesempatan di sekolah impian. Antrean viral itu, yang terekam di media sosial dan diliput sejumlah media, menampilkan sisi lain dari persiapan akademik: akses les berkualitas dan terjangkau sering kali tidak sebanding dengan jumlah peminat.
Untuk pembaca di Medan dan Sumut, berita ini bukan ajakan meniru antrean, melainkan potret betapa perencanaan pendidikan anak kini dimulai lebih awal. Informasi biaya, jadwal, dan proses registrasi tetap perlu dicek langsung ke lembaga terkait karena kuota dan ketentuan dapat berubah setiap periode pendaftaran.
Secara keseluruhan, kisah di Exist Gayam memperlihatkan pertemuan tiga unsur: reputasi kelulusan ke sekolah favorit, tarif yang dianggap masuk akal, serta orangtua yang siap berkorban waktu sejak subuh. Selama permintaan jauh melampaui kapasitas, pemandangan serupa berpotensi terulang di musim pendaftaran berikutnya.
Sumber: Liputan6.
