Penyanyi Vicky Shu berdagang bukan hanya di panggung. Ia aktif memanfaatkan media sosial, khususnya platform Threads, untuk mempromosikan bakat menyanyi, mencari peluang kerja seni, sekaligus menawarkan produk. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara yang mengikuti kabar hiburan nasional, kisahnya menggambarkan selebritas yang tetap turun langsung ke ruang percakapan digital.
Dalam perjumpaan di kawasan Tendean, Jakarta Selatan, Vicky menegaskan bahwa dagang sudah menjadi bagian dari dirinya jauh sebelum namanya dikenal luas. Ia mencontohkan pengalaman menjual sepatu di masa awal, lalu mengaitkannya dengan cara ia “menjual” kemampuan vokal kepada publik dan klien potensial.
Jiwa pedagang yang terbentuk sebelum popular
Vicky menyebut dirinya memiliki jiwa pedagang. Menurutnya, aktivitas berjualan bukan hal baru yang muncul setelah karier menyanyi meroket. Sebelum dikenal sebagai Vicky Shu, ia sudah terbiasa menawarkan barang, termasuk sepatu. Pola pikir itu kemudian ia terapkan pada karier seni: bakat menyanyi diperlakukan sebagai produk yang perlu dipromosikan secara jujur dan konsisten.
Pendekatan ini membuatnya tidak canggung saat muncul di kolom komentar orang yang sedang mencari jasa penyanyi atau menanyakan produk tertentu. Ia menilai memasarkan diri dan memasarkan barang memiliki logika yang mirip, yaitu membangun kepercayaan dan merespons kebutuhan orang lain.
Threads jadi ruang interaksi sekaligus etalase
Di antara berbagai kanal daring, Threads ia anggap lebih menyenangkan. Selain sebagai tempat menulis, platform itu memungkinkannya “nimbrung” secara spontan ketika percakapan menarik muncul. Interaksi acak tersebut, kata Vicky, sering membuka peluang relasi baru yang tidak selalu ia rencanakan di awal.
Ia juga memanfaatkan fitur percakapan untuk mempromosikan jasa menyanyi dan kegiatan dagang lainnya. Bagi selebritas yang jadwalnya padat, kehadiran di utas singkat dinilai lebih ringan dibanding format konten panjang, namun tetap memberi ruang untuk menawar kerja sama atau menjawab pertanyaan penggemar.
DM dibaca satu per satu demi menjaga relasi
Vicky mengaku membaca pesan langsung atau Direct Message yang masuk ke akunnya secara bergiliran, tidak dilewatkan begitu saja. Kebiasaan itu ia kaitkan dengan cara menjaga hubungan dengan audiens, calon klien, maupun mitra bisnis kecil yang menghubunginya lewat media sosial.
Bagi banyak pekerja seni independen, saluran pribadi di media sosial sering menjadi pintu masuk booking manggung, endorsement, atau sekadar permintaan kolaborasi. Dengan merespons DM, Vicky ingin memastikan peluang tersebut tidak hilang hanya karena kesibukan unggahan publik.
Pelajaran praktis untuk pelaku usaha dan kreator Medan
Meskipun wawancara berlangsung di Jakarta, pola yang dijalankan Vicky relevan bagi kreator, pemilik usaha mikro, dan pekerja seni di Medan yang mengandalkan kanal daring. Menggabungkan unggahan publik, komentar aktif, serta balasan DM dapat memperluas jangkauan tanpa harus menunggu panggung formal.
- Tegaskan keahlian atau produk secara konsisten di bio dan unggahan.
- Ikut percakapan yang relevan tanpa memaksakan promosi di setiap balasan.
- Kelola DM sebagai saluran layanan, bukan sekadar notifikasi.
- Samakan semangat “jualan bakat” dengan standar profesional saat bertemu klien.
Vicky menekankan bahwa media sosial baginya adalah ruang seru untuk menjalin relasi, bukan hanya papan iklan. Kombinasi antara keberanian menawarkan jasa, kebiasaan lama berdagang, dan kedisiplinan membaca pesan menjadi inti cara ia bergerak di platform seperti Threads.
Pada akhirnya, kisah Vicky Shu mengingatkan bahwa citra selebritas tidak menghalangi seseorang untuk tetap praktis mencari kerja dan berdagang. Transparansi soal hobi berjualan justru memperkuat narasi bahwa karier seni dan jiwa wirausaha dapat berjalan beriringan di era percakapan digital.
Sumber: Sindo News.
