BREAKING
Indeks
Nasional

Tiga Model Cara Berpikir dalam Al-Qur’an di Tengah Banjir Informasi

Fenomena mudahnya orang terhasut hoaks di media sosial, atau profesional yang cemerlang di bidang kerja namun hampa secara makna hidup, sering membuat kita bertanya: bagaimana sebenarnya manusia mengolah informasi? Dalam psikologi modern, proses itu dikaji lewat kognitivisme—cara otak menerima stimulus, menyimpannya, lalu mengubahnya menjadi perilaku. Jauh sebelum kerangka itu populer, khazanah kognitivisme Islam sudah menempatkan akal sebagai sistem yang dinilai dari dampak moral dan spiritual, bukan sekadar angka kecerdasan.

Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara yang setiap hari berhadapan dengan arus konten digital, pemetaan Al-Qur’an tentang cara berpikir manusia terasa sangat aktual. Kitab suci tidak mengukur “isi kepala” hanya dari kapasitas teknis, melainkan dari kualitas respons terhadap kebenaran. Secara garis besar, tipologi kognitif itu terbagi tiga: Jahil, Ghafil, dan ‘Aqil. Ketiganya menjadi cermin untuk membaca kebiasaan berpikir di zaman algoritma.

Jahil: Distorsi Kognitif, Bukan Sekadar Tidak Sekolah

Dalam pemahaman umum, “jahil” sering disamakan dengan kebodohan karena kurang pendidikan. Dalam nash Al-Qur’an, makna Jahl lebih menunjuk pada distorsi kognitif. Seseorang digolongkan jahil bukan karena kepalanya kosong, melainkan karena dipenuhi informasi keliru yang lalu dibela demi ego dan hawa nafsu, sambil menolak kebenaran objektif.

Pola ini subur di ruang gema media sosial, mirip bias konfirmasi: orang hanya percaya data yang selaras opini sendiri. Al-Qur’an menggambarkan watak fanatisme buta itu sebagai hamiyyah al-jahiliyyah dalam Surah Al-Fath ayat 26. Pada tahap ini, rasionalitas tumpul; fakta ilmiah dikalahkan prasangka (zhann) demi validasi kelompok. Level paling berbahaya disebut jahl murakkab—tidak tahu, tetapi merasa paling tahu. Surah Al-Baqarah ayat 11–12 menyinggung sikap itu: ketika diingatkan agar tidak berbuat kerusakan, mereka justru mengklaim sedang memperbaiki.

Ghafil: Kecerdasan Dangkal dan Atensi yang Menyempit

Berbeda dari Jahil yang bermasalah pada muatan pikiran, Ghafil atau ghafliyyah bermasalah pada sistem perhatian. Orang tipe ini bisa saja manajer sukses, ilmuwan, atau kreator dengan pengikut banyak. Yang rusak adalah sudut pandang kognitif yang menyempit—tunnel vision—sehingga makna lebih dalam luput dari radar.

Surah Ar-Rum ayat 7 merangkum potret itu: mereka hanya mengetahui sisi lahir kehidupan dunia, sementara tentang akhirat mereka lalai. Indera berfungsi, tetapi abstraksi maknawi gagal. Di era digital, kelalaian itu diperkuat algoritma yang menyuapi kepuasan instan. Metrik likes, penjualan, dan status sosial menjadi pusat, hingga esensi keberadaan terabaikan. Surah Al-A’raf ayat 179 memakai metafora tajam: hati yang tidak memahami, mata yang tidak melihat, telinga yang tidak mendengar. Hidup berjalan autopilot, scrolling tanpa jeda, terjebak present bias—sibuk hari ini, abai konsekuensi jangka panjang.

‘Aqil: Akal sebagai Aktivitas, Bukan Pajangan

Puncak kesehatan kognitif dalam kerangka Islam adalah menjadi ‘Aqil—orang yang benar-benar memfungsikan akal. Uniknya, Al-Qur’an jarang memakai “aql” sebagai kata benda statis; yang muncul adalah bentuk kerja seperti ta’qilun dan ya’qilun. Pesannya jelas: akal adalah aktivitas berpikir yang dinamis, kritis, dan berarah.

Secara etimologis, ‘aqala berarti mengikat. Seorang ‘Aqil mengikat emosi agar tidak liar seperti Jahil, dan mengikat fokus agar tidak tercerai seperti Ghafil. Pemilik kognisi unggul disebut ulul albab. Surah Ali ‘Imran ayat 190–191 menggambarkan pola mereka: mengintegrasikan zikir (kesadaran spiritual) dan pikir (analisis fenomena alam). Di tengah misinformasi, kemampuan saring informasi menjadi kunci. Surah Az-Zumar ayat 18 menyebut mereka yang mendengar beragam pendapat, lalu mengikuti yang terbaik.

  • Jahil: isi pikiran terdistorsi dan membela ego.
  • Ghafil: cerdas secara teknis, tetapi lalai pada makna dan akhirat.
  • ‘Aqil: berpikir aktif, menyaring, dan mengikat emosi serta atensi.

Cermin Diri di Tengah Budaya Reaktif

Pemetaan tiga tipologi itu bukan sekadar teori. Ia berfungsi sebagai cermin. Apakah kita mudah tersulut di kolom komentar karena judul yang memicu prasangka—ciri dekat Jahil? Atau justru sukses karier dan finansial, tetapi lumpuh saat diajak merenung makna hidup karena terlalu lekat pada riuh dunia—ciri Ghafil?

Bagi muslim, menjadi ‘Aqil adalah latihan kognitif yang terus-menerus. Dunia menuntut reaksi cepat; mengaktifkan ‘aql justru berarti berani berhenti sejenak, menyaring data, dan menghubungkan apa yang terlihat dengan kebenaran yang melampaui momen. Di lingkungan urban seperti Medan, di mana media sosial menjadi ruang publik sehari-hari, kesadaran tipologi ini membantu menahan diri dari fanatisme buta sekaligus dari kelalaian yang dibungkus kesibukan.

Al-Qur’an menawarkan arsitektur kognitif yang holistik: akal dinilai dari dampaknya pada moral, spiritual, dan kepekaan terhadap kebenaran. Memahami Jahil, Ghafil, dan ‘Aqil bukan untuk menghakimi orang lain, melainkan untuk mengoreksi cara kita sendiri menerima, mengolah, dan bertindak atas informasi. Itulah inti konstruksi akal yang relevan dari zaman turunnya wahyu hingga era banjir data hari ini.

Sumber: Republika.

Tag: kognitivisme Islam, tipologi akal, Al-Qur’an, era digital, literasi informasi, ulul albab, hoaks media sosial