Isu body shaming Alyssa kembali ramai dibicarakan setelah sejumlah netizen menyinggung penampilan sang istri Al Ghazali. Komentar yang menyebut tubuhnya terlihat lebih berisi memicu reaksi keras dari sang suami. Bagi pembaca di Medan dan wilayah lain, kasus ini mengingatkan betapa mudahnya perundungan daring menarget perempuan publik.
Al Ghazali, aktor sekaligus musisi putra sulung Ahmad Dhani, tidak memilih diam. Ia memosisikan diri sebagai suami yang melindungi pasangannya dari serangan verbal di media sosial. Sikap itu disampaikan saat ia ditemui di kawasan Kemang, Jakarta Selatan.
Komentar netizen yang menyinggung bentuk tubuh
Dalam unggahan dan percakapan daring, Alyssa Daguise sempat menjadi sasaran penilaian sepihak. Sejumlah warganet menyebut tubuhnya tampak lebih berisi atau gendut. Narasi semacam itu kerap muncul tanpa konteks kesehatan, proses pemulihan, maupun pilihan gaya hidup pribadi.
Body shaming di ruang digital biasanya menyasar perempuan yang hidupnya terekam kamera. Tekanan itu bisa datang berulang, meski yang bersangkutan tidak memancing perdebatan. Situasi Alyssa mencerminkan pola yang sama: penampilan fisik dijadikan bahan penilaian murah.
Jawaban tegas Al Ghazali di Kemang
Menanggapi gelombang komentar negatif itu, Al Ghazali memberi jawaban yang langsung menohok. Ia menyebut para pengirim komentar sebagai pihak yang iri, sekaligus menekankan bahwa perubahan pada tubuh perempuan merupakan hal yang wajar.
“Ah itu netizen yang sirik saja. Saya rasa semua wanita wajar-wajar aja sih,” ujarnya ketika dijumpai di Kemang, Jakarta Selatan. Pernyataan singkat itu membingkai sikapnya: ia menolak membiarkan istri diganggu oleh standar tubuh yang dipaksakan orang lain.
Kecantikan tidak diukur dari fisik semata
Bagi kakak El Rumi ini, menilai perempuan hanya dari siluet tubuh adalah pendekatan yang dangkal. Ia menegaskan bahwa di matanya Alyssa tetap sosok paling menawan dalam kondisi apa pun. Penegasan itu menempatkan rasa hormat dan penerimaan sebagai dasar hubungan rumah tangga, bukan validasi dari kerumunan daring.
Sikap serupa relevan dibaca di kota besar seperti Medan, di mana budaya berkomentar di media sosial juga kental. Membela pasangan di ruang publik tidak berarti menutup kritik sehat, tetapi menolak perundungan yang merendahkan martabat.
Pesan bagi warganet dan pasangan publik
Kasus body shaming Alyssa memperlihatkan dua sisi: kerentanan figur publik perempuan dan tanggung jawab pasangan untuk bersuara. Al Ghazali memilih jalur lurus—membela tanpa memperpanjang perdebatan toksik. Langkah itu memberi contoh singkat soal batasan yang perlu dijaga di kolom komentar.
- Hindari menilai tubuh orang lain tanpa dasar dan tanpa diminta.
- Bedakan opini gaya hidup dengan serangan personal.
- Dukung pasangan dengan pernyataan yang menenangkan, bukan memanas-manasi.
Di tengah arus konten selebritas yang cepat berganti, pembelaan Al Ghazali terhadap Alyssa Daguise tetap relevan sebagai pengingat: standar kecantikan tidak boleh dijadikan senjata untuk menjatuhkan. Publik di Sumut maupun nasional pun dapat mengambil jarak dari kebiasaan body shaming agar ruang daring lebih sehat.
Pada akhirnya, yang ditonjolkan bukan drama, melainkan penegasan bahwa istri berhak dihargai utuh—bukan hanya dari ukuran tubuh yang digunjingkan netizen.
Sumber: Sindo News.
