Peristiwa cemburu Aisyah terhadap kenangan Khadijah kembali mengingatkan banyak pembaca Muslim, termasuk di Medan dan Sumatera Utara, tentang sisi manusiawi rumah tangga Rasulullah SAW. Suatu hari di masa kehidupan Nabi, Halah binti Khuwailid—adik Khadijah binti Khuwailid—meminta izin menemui beliau. Suara Halah membuat Nabi tersentak dan teringat istrinya yang telah tiada.
Reaksi itu terekam jelas. Nabi berkata, “Ya Allah, itu Halah!” Nada dan sikap beliau menunjukkan betapa kuat jejak Khadijah dalam hati beliau. Dari titik itulah rasa cemburu Aisyah muncul, dan percakapan yang menyusul menjadi pelajaran tentang penghormatan, iman, dan cara menjaga kenangan orang yang berjasa.
Kedatangan Halah yang membangkitkan kenangan
Halah binti Khuwailid datang menemui Nabi Muhammad SAW. Begitu suara familiar itu terdengar, kenangan akan Khadijah langsung hadir. Khadijah bukan sekadar istri pertama; ia adalah sosok yang menopang dakwah di masa-masa paling berat. Bagi Nabi, mendengar saudara Khadijah sama dengan membuka kembali lembar kasih yang belum pudar.
Beliau menyambut Halah dengan hangat. Wajah yang sempat berubah karena celetukan cemburu kemudian kembali cerah setelah perjumpaan itu berlangsung. Sambutan tersebut bukan formalitas kosong, melainkan bentuk kesetiaan emosional yang tetap dijaga meski Khadijah telah lama meninggal.
Ungkapan cemburu Aisyah dan perubahan wajah Nabi
Sebagai istri yang masih hidup bersama beliau, Aisyah merasakan getaran cemburu. Ia menyinggung Khadijah dengan menyebutnya wanita tua yang berdagu merah dan telah lama tiada. Perkataan itu membuat raut wajah Nabi berubah tajam—perubahan yang jarang dilihat Aisyah, kecuali saat turunnya wahyu.
Setelah Halah pulang, Aisyah kembali berkomentar. Ia merasa Nabi bersikap sangat berbeda kepada wanita tua tersebut, seolah perlakuan itu tak pernah diberikan kepada orang lain. Di sinilah ketegangan rumah tangga bertemu dengan kelembutan jawaban kenabian.
Jawaban Rasulullah: kasih sayang bagian dari iman
Nabi menjelaskan bahwa Halah dulu sering datang ketika Khadijah masih hidup. Beliau menegaskan, memberi kasih sayang adalah bagian dari iman. Kalimat itu memindahkan perdebatan dari rasa cemburu belaka menuju nilai spiritual: menghormati orang yang pernah dekat dengan orang yang kita cintai adalah wujud keimanan, bukan sekadar nostalgia.
Beliau juga dikenal sering mengingat Khadijah dalam tindakan nyata. Terkadang seekor kambing disembelih, dagingnya dipotong, lalu dikirim kepada kerabat Khadijah. Aisyah sampai berkata seakan-akan di dunia tidak ada wanita selain Khadijah. Nabi menjawab bahwa jasa Khadijah luar biasa, dan beliau memiliki anak darinya—alasan yang jujur, sederhana, dan menenangkan.
Pelajaran rumah tangga yang relevan hingga kini
Kisah ini tidak menempatkan cemburu sebagai aib mutlak. Aisyah justru digambarkan sebagai manusia yang jujur pada perasaannya. Yang menonjol adalah cara Rasulullah merespons: tidak membalas dengan kemarahan berkepanjangan, melainkan dengan penjelasan, penghormatan pada jasa, dan penegasan nilai iman.
- Menghargai jasa pasangan yang telah tiada tidak berarti merendahkan pasangan yang ada.
- Menjaga silaturahmi dengan keluarga orang terkasih adalah bentuk kasih yang berkelanjutan.
- Cemburu bisa menjadi pintu dialog bila dijawab dengan lembut dan jernih.
Bagi pembaca di Medan yang akrab dengan majelis taklim dan kajian sirah, riwayat ini sering dipakai untuk membahas adab suami-istri. Intinya bukan menghapus emosi, melainkan menuntun emosi agar tidak menghapus penghargaan kepada orang yang berjasa besar dalam sejarah hidup seseorang.
Pada akhirnya, pertemuan singkat dengan Halah, cemburu Aisyah, dan jawaban Nabi tentang Khadijah menyusun potret rumah tangga yang hidup: ada rasa, ada luka kecil, ada penjelasan, dan ada komitmen untuk tetap berbuat baik. Itulah sisi lembut risalah yang terus dikenang lintas generasi.
Sumber: Republika.
