Bencana yang melanda sejumlah kawasan dunia, termasuk banjir bandang di Nepal, kembali memicu perbincangan di kalangan umat Islam di Indonesia, termasuk pembaca di Medan dan Sumatera Utara. Bukan sekadar berita kejadian alam, peristiwa itu dinilai sebagai momentum untuk melakukan introspeksi musibah secara jujur. Dai lulusan Al-Azhar Mesir, Ustaz Rikza Maulan, menekankan bahwa manusia perlu meneliti sikap dan amalannya ketika ditimpa ujian.
Dalam pandangan keislaman yang ia sampaikan, musibah terjadi atas izin Allah SWT. Sekaligus, Al-Quran memberi isyarat bahwa sebagian kerusakan di muka bumi bisa berkaitan dengan perilaku manusia. Bencana dipahami sebagai bagian dari sunnatullah, bisa menjadi ujian, penggugur dosa, sekaligus peringatan agar masyarakat kembali menata hidup sesuai tuntunan syariat.
Mengapa intropeksi menjadi respons pertama
Ustaz Rikza Maulan mengingatkan bahwa menghadapi musibah tidak cukup dengan keluhan atau saling menyalahkan. Yang lebih penting adalah evaluasi diri: adakah sikap yang berpotensi mengundang kemurkaan Allah SWT. Intropeksi itu menempatkan hati dalam posisi tunduk, bukan sombong, sehingga setiap peristiwa pahit menjadi pintu perbaikan akhlak dan ibadah.
Bagi warga Muslim di kota-kota besar seperti Medan, pesan tersebut relevan dengan ritme kehidupan urban yang sering sibuk. Kesempatan merenung saat mendengar kabar bencana di negeri lain bisa menjadi pengingat kolektif agar sedekah, salat berjamaah, dan kepedulian sosial tidak terpinggirkan oleh rutinitas.
Pendustaan ayat dan hilangnya keberkahan
Salah satu perilaku yang disebut berkaitan dengan dicabutnya keberkahan adalah mendustakan atau mengingkari ayat-ayat Allah SWT. Sebaliknya, keimanan dan ketakwaan digambarkan sebagai jalan terbukanya kebaikan dari langit dan bumi. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah pada surah Al-A’raf ayat 96.
Ayat tersebut menjelaskan, seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya dibukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi. Namun ketika mereka mendustakan ayat-ayat-Nya, siksa datang akibat perbuatan yang mereka kerjakan sendiri. Pesan ini menegaskan kaitan antara sikap terhadap wahyu dengan kondisi keberkahan suatu masyarakat.
Syirik sebagai dosa yang sangat berat
Penyebab lain yang disinggung adalah menyekutukan Allah SWT atau syirik. Dalam ajaran Islam, syirik termasuk dosa besar. Al-Quran menggambarkan betapa seriusnya ucapan atau keyakinan yang menisbatkan anak kepada Allah, suatu bentuk penyimpangan tauhid yang menjauhkan hamba dari kemurnian ibadah.
Dengan menempatkan tauhid sebagai poros, umat diajak menjauhi segala bentuk penyekutuan, baik yang kasatmata maupun yang halus dalam kebiasaan sehari-hari. Kesadaran ini memperkuat fondasi keimanan agar musibah tidak direspons dengan mencari perlindungan kepada selain Allah.
Musibah sebagai ujian sekaligus peringatan
Selain terkait perbuatan manusia, bencana tetap dipahami dalam kerangka takdir dan izin Ilahi. Ia dapat menjadi ujian kesabaran, sarana menghapus dosa, dan tanda agar manusia tidak lengah. Kombinasi tiga makna itu menuntut sikap seimbang: berdoa, berusaha menolong sesama, serta memperbaiki hubungan dengan Allah dan makhluk.
Di tingkat komunitas, pelajaran dari pembahasan ayat-ayat tentang musibah bisa diterjemahkan menjadi gerakan konkret. Mulai dari penguatan majelis taklim, edukasi keluarga soal tauhid, hingga kesiapsiagaan menghadapi risiko alam tanpa menihilkan dimensi spiritual. Pendekatan itu menjaga umat tetap waras secara iman sekaligus tangguh secara sosial.
Pada akhirnya, seruan Ustaz Rikza Maulan mengajak setiap Muslim menatap berita bencana dengan hati yang siap berubah. Intropeksi musibah bukan untuk menuduh pihak lain, melainkan untuk membersihkan niat, meneguhkan tauhid, dan menjaga ketaatan pada ayat-ayat Allah agar keberkahan kembali diharapkan turun di bumi yang dihuni bersama.
Sumber: Sindo News.
