Ketegangan di kawasan Teluk kembali memanas setelah Amerika Serikat mengklaim serangan ke Pulau Larak, Iran, ditujukan pada peluncur roket yang diduga dipakai menebar ranjau laut di jalur strategis Selat Hormuz. Isu ranjau Selat Hormuz ini langsung menjadi sorotan karena selat tersebut menjadi urat nadi minyak dunia, termasuk pasokan yang memengaruhi harga energi hingga ke pasar Asia dan Indonesia.
Pimpinan Iran mengecam aksi tersebut sebagai agresi. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) kemudian melancarkan serangan balasan ke dua pangkalan militer Amerika di Yordania, menandai eskalasi cepat setelah serangan ke pulau di mulut selat itu.
Apa yang diklaim Washington atas target di Larak
Menurut klaim pihak Amerika, sasaran di Larak berkaitan dengan sistem peluncur yang dihubungkan dengan penyebaran ranjau di perairan Selat Hormuz. Pulau itu terletak di posisi yang rawan secara geostrategis, sehingga setiap aktivitas militer di sekitarnya mudah dibaca sebagai ancaman terhadap lalu lintas tanker.
Iran menolak narasi tersebut. IRGC menyatakan serangan menyebabkan korban di kalangan anggota dan warga sipil. Kantor berita semi-resmi Tasnim menyebut setidaknya dua orang tewas dan dua lainnya luka-luka. Angka resmi lengkap dari kedua belah pihak masih terbatas di ruang publik.
Mengapa cara menebar ranjau lewat roket dipersoalkan
Pertanyaan teknis muncul keras: apakah ranjau laut memang bisa diluncurkan dengan roket tanpa merusak perangkatnya sendiri. Harlan Ullman, pensiunan perwira senior Angkatan Laut Amerika, menilai klaim penyebaran ranjau lewat roket tidak masuk akal.
Ullman menduga intelijen mungkin menangkap sinyal kesiapan Iran memakai peluncur dari kapal, namun tingkat ancaman itu lalu digambarkan lebih kecil di Washington. Ia menekankan benturan roket ke permukaan air berisiko merusak ranjau. Iran, katanya, punya banyak opsi lain untuk menanam ranjau, dan ia mempertanyakan mengapa Komando Sentral AS (CENTCOM) menekankan skenario roket yang dinilai sangat tidak lazim.
Rekam jejak latihan Iran dan sistem Fajr-5
Meski kritik teknis mengemuka, Iran pernah memamerkan kemampuan serupa di media pemerintah. Pada Januari 2025, televisi resmi menayangkan IRGC yang diduga memakai sistem peluncur roket multi-laras Fajr-5 untuk menanam ranjau dalam latihan angkatan laut.
Fajr-5 merupakan sistem jarak menengah yang utamanya dirancang menembakkan roket berhulu ledak dan dipasang di atas truk agar tangguh di medan berat. Tayangan itu menjadi rujukan pihak yang menilai skenario peluncuran dari darat ke laut bukan hal yang sama sekali asing dalam doktrin latihan Teheran, meskipun efektivitas di medan sungguhan tetap diperdebatkan para analis.
Dampak bagi jalur energi dan pembaca di Medan
Selat Hormuz dilalui porsi besar ekspor minyak teluk. Setiap ancaman ranjau, penutupan sementara, atau eskalasi militer berpotensi mengerek premi asuransi kapal dan harga minyak mentah. Bagi kota pelabuhan dan pusat konsumsi energi seperti Medan serta kawasan Sumatera Utara, gejolak harga BBM dan biaya logistik global bisa terasa lewat rantai pasok, meski konflik berlangsung ribuan kilometer jauhnya.
- Risiko gangguan tanker di selat sempit meningkatkan volatilitas harga energi.
- Eskalasi AS–Iran memperbesar ketidakpastian asuransi dan rute pelayaran.
- Pasar Asia, termasuk Indonesia, sensitif terhadap guncangan pasokan teluk.
Pemantauan pernyataan CENTCOM, Teheran, dan data korban dari sumber setempat tetap penting agar publik tidak hanya menerima satu versi klaim. Hingga kini, inti sengketa berporos pada apakah peluncur di Larak memang dipakai menebar ranjau, atau apakah justifikasi militer itu dibantah oleh logika teknis penempatan ranjau laut.
Di tengah balasan IRGC ke pangkalan di Yordania dan kecaman politik Iran, jalur diplomasi serta kehati-hatian navigasi komersial menjadi penentu agar ketegangan tidak meluas menjadi krisis energi yang lebih dalam. Pembaca di Medan perlu mengikuti perkembangan harga minyak dan kebijakan energi nasional sebagai barometer dampak tidak langsung.
Sumber: Republika.
