Kondisi industri perbankan nasional pada kuartal II-2026 menjadi sorotan setelah Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, Hery Gunardi, menekankan bahwa fondasi sektor tersebut masih kuat. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, penilaian ini relevan karena perbankan menjadi urat nadi pembiayaan UMKM, perdagangan, dan konsumsi rumah tangga di wilayah ini.
Pemaparan disampaikan Hery dalam konferensi pers kinerja BRI triwulan II tahun 2026 di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026. Ia menyoroti daya tahan industri yang ditopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran 5,30 persen serta meredanya tekanan inflasi dalam negeri.
Stabilitas moneter dan ruang gerak inflasi
Menurut Hery, inflasi domestik yang melandai dari 3,48 persen pada kuartal I-2026 menjadi 3,34 persen pada kuartal II-2026 memberi ruang bagi stabilitas harga. Di sisi lain, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan 100 basis poin, dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen, sebagai langkah menjaga kestabilan moneter nasional.
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang solid dan pengendalian inflasi dinilai membuat industri perbankan nasional tetap menunjukkan fundamental yang baik. Hery menegaskan bahwa hingga triwulan kedua 2026, sektor ini cukup resilient meski ada penyesuaian suku bunga acuan.
Fungsi intermediasi yang terus melaju
Kinerja sektor tercermin dari fungsi penyaluran dana yang berjalan cepat. Penyaluran kredit industri perbankan tumbuh 12,7 persen secara year-on-year. Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 10,2 persen yoy, sementara pertumbuhan pendanaan kas tercatat 11,0 persen yoy.
Angka-angka tersebut menandakan bank masih mampu menyalurkan pembiayaan sambil menjaga likuiditas. Bagi pelaku usaha di Medan yang bergantung pada akses kredit modal kerja dan investasi, laju intermediasi nasional menjadi sinyal bahwa saluran pembiayaan tetap terbuka, meski biaya dana menyesuaikan arah suku bunga.
Optimisme dari aktivitas UMKM
Hery juga mengaitkan optimisme pasar dengan ekspansi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Indeks Bisnis UMKM dilaporkan melonjak dari 10,25 pada 2025 menjadi 104,7 pada kuartal I-2026. Lonjakan indikator itu mencerminkan pulihnya aktivitas usaha yang menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja di banyak daerah, termasuk Sumut.
UMKM di kawasan Medan, Deli Serdang, dan kota-kota sekitarnya kerap menjadi mitra utama bank dalam penyaluran kredit produktif. Ketika indeks bisnis bergerak positif di tingkat nasional, harapan terhadap perputaran usaha lokal biasanya ikut menguat, asalkan penyaluran kredit tetap selektif dan berkelanjutan.
Implikasi bagi nasabah dan dunia usaha di Sumut
Kenaikan suku bunga acuan berpotensi memengaruhi biaya pinjaman baru maupun existing. Namun, penilaian Dirut BRI bahwa fundamental industri tetap kokoh memberi konteks bahwa penyesuaian moneter tidak serta-merta melemahkan kapasitas intermediasi perbankan secara keseluruhan.
Nasabah ritel, pengusaha menengah, dan koperasi di Sumatera Utara perlu memantau suku bunga kredit, syarat agunan, serta program pembiayaan sektoral. Di saat yang sama, pertumbuhan DPK nasional mengisyaratkan masyarakat masih menempatkan dana di perbankan, yang penting bagi ketersediaan likuiditas jangka menengah.
- Pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 5,30 persen menopang daya tahan bank.
- Inflasi kuartal II-2026 di level 3,34 persen, lebih rendah dari kuartal sebelumnya.
- Kredit industri tumbuh 12,7 persen yoy; DPK 10,2 persen yoy.
Secara keseluruhan, pernyataan Hery Gunardi menggambarkan industri perbankan nasional yang masih solid di tengah penyesuaian moneter. Pemantauan berkala terhadap suku bunga, kualitas kredit, dan dinamika UMKM tetap diperlukan agar manfaat intermediasi terasa hingga ke nasabah di Medan dan sekitarnya.
Sumber: Sindo News.
