Keluhan soal air PDAM Depok kembali mencuat setelah aliran bersih di sejumlah kecamatan terhenti sejak Selasa sore (1/9/2026). Pelanggan di perumahan dan kawasan padat merasa terhimpit karena kebutuhan memasak, mencuci, dan mandi anak sekolah ikut terganggu, sementara tagihan bulanan tetap berjalan.
Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa layanan air perpipaan di kota besar rentan macet bila instalasi pengolahan bermasalah. Pola keluhan mirip sering muncul saat perawatan jaringan atau musim kemarau: minim pemberitahuan dini, warga beralih ke air isi ulang, dan pertanyaan soal tanggung jawab operator.
Wilayah terdampak dan kronologi gangguan
Berdasarkan data sementara yang dihimpun, aliran air PDAM Tirta Asasta sempat hilang di Kecamatan Beji, Pancoran Mas, Cipayung, Sawangan, Limo, dan Cinere. Sebagian wilayah Sukmajaya serta Cilodong juga ikut terdampak. Di Perumahan Permata Depok, warga mengaku hingga Rabu pagi (2/9/2026) keran masih kering.
Seorang pelanggan bernama Tama menuturkan air berhenti mengalir sejak Selasa sore. Informasi dari tetangga menyebut ada perbaikan jaringan yang direncanakan malam hari dengan estimasi pengerjaan panjang, sehingga pasokan baru diharapkan pulih keesokan paginya. Warga yang punya akses sumur saling berbagi; yang tidak, terpaksa membeli air galon isi ulang.
Suara pelanggan: denda telat bayar versus pelayanan putus
Tama menyoroti ketimpangan antara sanksi pelanggan dan respons saat layanan terhenti. Ia menegaskan, keterlambatan pembayaran tagihan saja sudah dikenai denda di atas Rp15 ribu, sehingga wajar bila masyarakat menuntut kejelasan tanggung jawab operator ketika air tidak tersedia.
Keluhan senada datang dari Suterisna di kawasan Beji. Ia menyebut aliran mati sejak Selasa siang tanpa pemberitahuan memadai, dan tidak melihat petugas datang memeriksa ke rumah. Di tengah musim kemarau, andalan sumur dinilai tidak selalu mencukupi. Akibatnya, biaya tambahan untuk air isi ulang membebani rumah tangga yang sebenarnya rutin melunasi tagihan tepat waktu.
Penjelasan resmi PT Tirta Asasta soal IPA Citayam
Direktur Operasional PT Tirta Asasta Depok, Sudirman, meminta maaf kepada pelanggan. Ia menjelaskan gangguan berpangkal pada Instalasi Pengolahan Air (IPA) Citayam. Kabel power yang terbakar membuat operasi pompa seluruhnya berhenti, sehingga pelayanan ke sekitar 30 ribu pelanggan terputus.
Perbaikan instalasi diperkirakan memakan waktu sekitar tiga jam. Setelah perangkat kembali berfungsi, normalisasi aliran ke rumah-rumah masih membutuhkan waktu tambahan sekitar enam jam. Manajemen menekankan upaya maksimal agar pasokan segera stabil dan dampak ke warga bisa ditekan.
Langkah darurat tangki air dan catatan untuk kota lain
Selama gangguan, PDAM Tirta Asasta menyalurkan air bersih lewat mobil tangki dengan total volume 90 ribu liter. Langkah itu dimaksudkan menolong kebutuhan mendesak di wilayah yang kerannya masih kosong. Meski demikian, warga berharap komunikasi lebih cepat ke depan agar keluarga bisa menyiapkan cadangan sebelum keran benar-benar kering.
- Penyebab teknis: kabel power IPA Citayam terbakar, pompa berhenti.
- Skala dampak: sekitar 30 ribu pelanggan di sejumlah kecamatan Depok.
- Mitigasi: perbaikan bertahap plus distribusi 90 ribu liter lewat tangki.
- Harapan warga: pemberitahuan dini dan kejelasan kompensasi layanan.
Dari kacamata publik Medan, berita air PDAM Depok ini relevan sebagai pelajaran tata kelola: perawatan instalasi, kesiapan armada tangki, dan kanal informasi pelanggan harus berjalan bersamaan. Gangguan sehari saja sudah menggeser pola belanja rumah tangga ke air isi ulang dan memicu pertanyaan soal keadilan antara denda keterlambatan bayar dengan jaminan pelayanan.
Sampai aliran benar-benar merata kembali, pelanggan di kawasan terdampak diimbau memantau pengumuman resmi operator serta mengatur stok air untuk kebutuhan dasar. Transparansi durasi perbaikan dan wilayah yang sudah pulih akan membantu meredam keresahan, sekaligus menjaga kepercayaan pada layanan air perpipaan kota.
Sumber: Liputan6.
