Ancaman karhutla Kalimantan kembali menyorot nasib satwa liar yang menggantungkan hidup pada hutan. Pembaca di Medan dan wilayah Sumatera Utara perlu memahami bahwa kebakaran di pulau tersebut bukan sekadar asap lintas pulau, melainkan kehancuran rumah bagi orangutan, bekantan, beruang madu, dan burung enggang. Ketika api meluas, pepohonan, pakan, dan koridor pergerakan satwa ikut musnah dalam waktu singkat.
Hutan Kalimantan selama ini dikenal menyimpan keanekaragaman hayati tinggi. Kawasan itu menopang rantai makanan dari tajuk pohon hingga ekosistem gambut. Begitu lahan terbakar, tekanan terhadap populasi satwa meningkat tajam karena ruang hidup menyempit dan sumber pangan menghilang.
Hutan Kalimantan sebagai ruang hidup satwa endemik
Pulau Kalimantan menjadi rumah bagi orangutan Kalimantan, bekantan, beruang madu, burung enggang, trenggiling, serta sejumlah spesies yang terikat pada lahan gambut. Mereka memanfaatkan kanopi untuk berlindung, mencari buah, dan berkembang biak. Keragaman tersebut hanya bertahan jika tutupan hutan utuh dan saling terhubung.
Begitu api masuk, struktur vegetasi berubah. Pohon induk yang biasa menjadi sumber buah hilang. Jalur yang biasa dilalui satwa terputus. Satwa kemudian terdorong mendekati tepi hutan, perkebunan, atau permukiman demi bertahan hidup. Situasi ini memperbesar risiko konflik dengan manusia.
Apa yang rusak saat api melahap lahan
Kebakaran hutan dan lahan tidak berhenti pada asap yang mengganggu pernapasan warga. Api menghabisi tempat berlindung, cadangan pakan, serta lokasi kawin dan bersarang. Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah menegaskan bahwa kerusakan habitat akibat karhutla membuat satwa kehilangan perlindungan, makanan, dan area berkembang biak.
Pemulihan tidak terjadi seketika setelah api padam. Pohon buah membutuhkan waktu lama untuk tumbuh kembali. Tutupan yang terfragmentasi mengurangi kemampuan ekosistem pulih secara alami. Sementara itu, satwa tetap harus makan dan bergerak setiap hari di kawasan yang makin sempit.
- Hilangnya pohon pakan dan tempat bersarang
- Terputusnya koridor antar-kawasan hutan
- Fragmentasi habitat yang berulang tiap musim kering
- Tekanan pada spesies gambut, termasuk beberapa jenis ikan
Evakuasi orangutan di Ketapang setelah hutan terbakar
Dampak paling konkret terlihat di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, pada Agustus 2026. Tiga orangutan ditemukan di kawasan perkebunan yang berbatasan dengan permukiman setelah kebakaran menghanguskan bagian hutan yang menjadi jalur pergerakan mereka. Sumber makanan ikut hilang, sehingga satwa tersebut terdorong keluar dari interior hutan.
Tim gabungan kemudian mengevakuasi ketiga orangutan itu agar dipindahkan ke lokasi yang lebih aman. Kasus ini menegaskan betapa bergantungnya primata tersebut pada tutupan hutan utuh. Tanpa habitat yang memadai, orangutan mudah tersudut di lahan produksi atau dekat pemukiman warga.
Selain orangutan, bekantan, enggang, beruang madu, trenggiling, dan fauna gambut juga rawan terdampak. Kebakaran berulang memperparah pecahnya habitat sehingga populasi semakin sulit pulih tanpa intervensi pelestarian yang konsisten.
Respons pemadaman dan peran warga menjaga hutan
Pada 2026, kebakaran di sejumlah wilayah Kalimantan meluas hingga kawasan hutan dan lahan gambut. Pemerintah meningkatkan upaya pemadaman karena cuaca kering mempercepat penjalaran api. Kondisi itu menempatkan karhutla sebagai ancaman serius bagi keanekaragaman hayati maupun kesehatan masyarakat di luar Kalimantan, termasuk yang merasakan asap di kota-kota lain.
Menjaga hutan berarti menjaga ruang hidup makhluk yang tidak bisa meminta tolong dengan kata-kata. Langkah sederhana tetap berarti: menghindari pembakaran lahan sembarangan, tidak membuang puntung atau benda mudah terbakar di kawasan rawan, serta mendukung program pemulihan dan perlindungan habitat.
Bagi masyarakat Medan dan Sumatera Utara, isu ini relevan sebagai pengingat bahwa krisis habitat di Kalimantan adalah urusan nasional. Asap, hilangnya satwa ikonik, dan rusaknya jasa lingkungan hutan berdampak luas. Kesadaran kolektif membantu menekan titik api sejak dini.
Hutan mungkin tampak sebagai deretan pohon dari kejauhan. Bagi satwa, itu adalah satu-satunya rumah. Ketika rumah itu dilalap api, pilihan mereka tinggal bermigrasi ke wilayah berisiko atau bertahan di sisa habitat yang makin terbatas. Perlindungan tutupan hijau hari ini menentukan apakah generasi satwa berikutnya masih memiliki tempat untuk hidup.
Sumber: Republika.
