Kisah kaum Nabi Nuh yang ditimpa banjir besar bukan sekadar cerita lama. Peristiwa itu diabadikan Al-Qur’an sebagai peringatan keras tentang kesyirikan, kesombongan, dan penolakan terhadap seruan tauhid. Bagi pembaca Muslim di Medan dan Sumatera Utara, kisah ini relevan sebagai bahan renungan, tanpa menambahkan detail di luar keterangan kitab suci.
Nabi Nuh ‘alaihissalam menyampaikan dakwah dalam waktu sangat panjang. Hanya segelintir orang yang menerima ajarannya. Mayoritas tetap bertahan pada kebiasaan lama hingga azab datang dalam wujud banjir yang membinasakan. Pertanyaan yang kerap muncul: apa akar kedurhakaan yang membuat hukuman itu begitu dahsyat?
Dakwah lama, penerimaan sangat tipis
Al-Qur’an menggambarkan bahwa Nabi Nuh terus-menerus mengajak kaumnya kembali kepada Allah. Seruan itu mencakup ajakan meninggalkan sesembahan selain Allah dan memperbaiki akhlak sosial. Meski dakwah berlangsung lama, respons positif tetap terbatas.
Penolakan itu tidak hanya soal perbedaan pendapat. Ia bercampur dengan rasa superioritas sebagian tokoh masyarakat yang merasa cukup dengan tradisi nenek moyang. Sikap menolak kebenaran yang sudah jelas disampaikan utusan Allah menjadi salah satu titik kritis yang diabadikan dalam kisah ini.
Kesyirikan dan warisan berhala
Bentuk kedurhakaan paling menonjol adalah penyembahan berhala. Kaum tersebut meninggalkan tauhid murni dan mempertahankan sesembahan yang diwariskan generasi sebelumnya. Praktik ini tumbuh bertahap: mula-mula berupa penghormatan kepada orang saleh, lalu berubah menjadi pemujaan patung.
Allah SWT mengabadikan ucapan mereka dalam surah Nuh ayat 23, yang intinya melarang meninggalkan tuhan-tuhan mereka, termasuk Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr. Ayat itu menegaskan betapa kuatnya ikatan mereka pada berhala, bahkan ketika dakwah tauhid sudah disampaikan berulang kali.
Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr
Nama-nama berhala itu disebut secara khusus dalam Al-Qur’an. Dalam penjelasan ulama tafsir yang dinukil dari riwayat Ibnu Abbas sebagaimana tercatat dalam sejumlah referensi klasik, nama-nama tersebut kemudian dikenal juga di kalangan kabilah Arab sebagai sesembahan.
Inti pelajarannya bukan pada daftar nama semata, melainkan pada proses penyimpangan. Penghormatan yang semula ditujukan kepada tokoh saleh bergeser menjadi ritual ibadah kepada patung. Pergeseran pelan-pelan itu memperlihatkan bagaimana tauhid bisa terkikis jika tidak dijaga dengan ilmu dan kesadaran.
- Penolakan dakwah Nabi Nuh berlangsung lama dan sistematis.
- Kesyirikan berhala menjadi ciri utama kedurhakaan kaumnya.
- Kesombongan sosial memperkuat penolakan terhadap kebenaran.
- Azab banjir menjadi akhir dari sikap ingkar yang terus dipertahankan.
Pesan untuk pembaca masa kini
Kisah banjir besar zaman Nabi Nuh mengajarkan bahwa bencana dalam narasi Al-Qur’an tidak berdiri sendiri. Ia terkait dengan sikap batin: menyekutukan Allah, menolak nasihat, dan merasa cukup tanpa petunjuk wahyu. Umat Islam diajak introspeksi, bukan spekulasi menghakimi bencana modern tanpa dasar.
Bagi masyarakat Medan yang mayoritas Muslim, hikmahnya praktis: jaga tauhid, hargai nasihat yang benar, dan jangan meremehkan peringatan agama. Sejarah kaum Nabi Nuh menjadi cermin bahwa kesombongan dan kesyirikan memiliki konsekuensi berat, sebagaimana digambarkan kitab suci.
Dengan memahami sebab-sebab yang disebut Al-Qur’an, pembaca memperoleh kerangka berpikir yang lebih jernih. Kisah ini bukan untuk menakut-nakuti kosong, melainkan menguatkan komitmen pada keimanan dan kejujuran menerima kebenaran.
Sumber: Sindo News.
