Masjid Omari Gaza bukan sekadar bangunan ibadah. Situs di jalur dagang Mesir–Syam ini merekam pergantian kekuasaan selama berabad-abad, dari kuil Yunani hingga restorasi dinasti Mamluk. Bagi pembaca di Medan dan Sumatera Utara yang menyimak isu Palestina, riwayat masjid ini memberi konteks mengapa warisan budaya Gaza terus dibahas di ruang publik.
Serangan udara Israel pada 8 Oktober 2023 merusak parah masjid yang kerap disebut Masjid Agung Gaza. Di balik puing itu tersimpan lapisan sejarah yang sudah diteliti sejarawan Jean-Pierre Filiu dalam Gaza: A History serta sejumlah sumber klasik Arab.
Dari kuil Zeus menjadi masjid khalifah
Menurut Filiu, lokasi masjid bermula sebagai Kuil Zeus. Pada masa Bizantium bangunan itu menjadi Gereja Santo Eudoksia. Pertengahan 630-an M, pasukan kekhalifahan merebut Gaza dari Bizantium dan mengubah gereja menjadi masjid.
Waktu pasti penaklukan masih diperdebatkan. Al-Baladzuri dalam Futuhul Buldan menempatkannya pada masa Khalifah Abu Bakar (632–634 M). Al-Tabari dalam Tarikh ar-Rusul wa al-Muluk menyebut sekitar 636/637 M di masa Umar bin Khattab. Catatan penjelajah Al-Muqaddasi tahun 985 M menyebut masjid indah di Gaza sebagai monumen bagi Umar, sekaligus tempat singgah pedagang.
Gempa, Fathimiyah, dan pendudukan Salib
Posisi strategis membuat Gaza sering berganti penguasa: Khulafaur Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, lalu Dinasti Fathimiyah sekitar 969 M. Gempa merusak bangunan pada abad ke-11. Tahun 1149 M pasukan Kerajaan Latin Yerusalem di bawah Baldwin III menguasai kota; masjid diperbesar menjadi Katedral Santo Yohanes Sang Pembaptis. Ksatria Templar mengelola kastil dan menjadi penguasa de facto.
Peneliti Ziad M. Shehada mencatat gereja tertua Gaza, Santo Porfirius, menolak penyatuan dengan katedral baru itu karena dianggap simbol pendudukan Eropa. Setelah Shalahuddin al-Ayyubi menang di Hittin, Gaza dibebaskan 1187 M. Sekretarisnya, Bahauddin bin Shaddad, mencatat pembebasan itu setelah Ramla, Yubna, dan Darum. Katedral dikembalikan fungsi menjadi masjid.
Pertarungan 1244 dan restorasi Baybars
Pada 1228 M Gaza sempat dikuasai lagi pihak Salib; bangunan menjadi Katedral Mario Hanna. Tahun 1244 M pasukan Ayyubiyah dan Salib bertempur dekat kawasan masjid. Imam Adz-Dzahabi dalam Duwal al-Islam mencatat pertempuran 642 H antara Gaza dan Asqalan: koalisi Ayyubiyah Damaskus–Homs–Al-Karak yang dibantu Salib dikalahkan pasukan Mesir Malik as-Shalih Najmuddin bersama pasukan Khawarizmi; korban disebut lebih dari 30.000 orang. Masjid mengalami kerusakan parah.
Restorasi terakhir sebagai masjid dilakukan 1260 M di masa Sultan Mamluk Az-Zhahir Baybars. Ia melengkapi kompleks dengan perpustakaan berisi lebih dari 20.000 naskah. Koleksi dibuka 1277 M: Al-Qur’an, sirah Nabi, filsafat, pengobatan, dan tasawuf. Menara didirikan 1285 M. Di masa Sultan Qalawun masjid diperluas, termasuk memanfaatkan tembok utara Gereja Santo Porfirius yang diserahkan kepada umat Islam.
Warisan keilmuan dan makna bagi publik hari ini
Dinasti Mamluk, meski sibuk menghadapi Mongol dan sisa kekuatan Salib, menaruh perhatian pada literatur. Robert Irwin dalam kajian Mamluk Literature menggambarkan keragaman tema sastra, sejarah, dan ensiklopedia sejalan dengan isi perpustakaan Omari. Jejak itu menegaskan integrasi ibadah dan ilmu di Gaza abad pertengahan.
Kerusakan 2023 menambah daftar situs warisan Gaza yang terdampak konflik. Memahami urutan fakta—dari kuil, gereja, katedral, masjid, hingga perpustakaan—membantu pembaca memisahkan narasi emosional dari rekam sejarah yang sudah tercatat sejarawan Muslim dan Barat. Untuk komunitas Muslim Medan, riwayat ini menjadi pengingat bahwa preservasi memori budaya Palestina tidak lepas dari ketelitian sumber.
Dengan demikian, Masjid Omari tetap relevan dibahas bukan hanya sebagai lokasi ibadah, melainkan arsip hidup pergantian kekuasaan di koridor Mediterania timur.
Sumber: Republika.
